Showing posts with label KUDETA TURKI. Show all posts
Showing posts with label KUDETA TURKI. Show all posts

Begini Cara Erdogan Lolos Dari Sergapan F-16 Saat Kudeta


[beritanews33.blogspot.com] ISTANBUL - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan naik pesawat jet pribadi (type Gulfstream 4) saat terbang pulang dari Marmaris ke Istanbul, Jumat (15/7), beberapa jam setelah kudeta militer berlangsung dan dibidik oleh dua pesawat jet tempur F-16. Namun, pesawat Erdogan tiba-tiba menyelinap hilang dari bidikan jet tempur F-16 yang dipiloti militer pengkudeta.

Dua jet tempur F-16 yang membidik pesawat jet mewah Erdogan Gulfsream 4 sejatinya sudah siap dengan tembakan rudal Sidewinder. Namun, pilot pengkudeta tidak sempat menembakannya dalam momen langka yang hanya beberapa menit itu.

Arda Mevlutoglu, seorang wartawan Turki yang mengkhususkan diri di bidang militer memberikan analisa lolosnya Erdogan dari upaya pembunuhan oleh jet-jet tempur canggih itu.

Menurutnya, pilot Presiden Erdogan sudah mempunya rencana cerdik. Sang pilot, katanya, mengalihkan transponder radio pesawat untuk dicocokkan dengan sebuah pesawat sipil, sehingga pesawat Gulfstream secara efektif “menyamar” sebagai pesawat sipil. Hal ini terjadi, karena saat itu langit di dekat Istanbul juga ramai lalu lalang pesawat sipil atau pesawat komersial.

Pesawat pribadi yang ditumpangi Presiden Erdogan Gulfstream 4 dengan kode TC-ATA disamarkan oleh sang pilot sebagai pesawat penerbangan komersial Turkish Airlines dengan kode penerbangan THY 8456 (kode penerbangan Turki adalah THY = Türk Hava Yolları/Turkish Airlines).

Ketika penyamaran itu sukses, muncul pesawat-pesawat tempur yang dipiloti pasukan loyalis Erdogan. Pilot tempur itu lantas mengejar dua pesawat jet tempur F-16 pemberontak yang sempat membidik pesawat Erdogan.

(F-16 pihak kudeta)

Erdogan sendiri ketika ditanya soal ancaman penembakan jatuh pesawatnya saat kudeta, menolak menjelaskan “tipu muslihat” pilot pesawatnya. Dia hanya berujar bahwa hanya ada “kecelakaan komunikasi”.

Setelah Erdogan lolos dari upaya pembunuhan, para pasukan loyalisnya membalas dengan menyerang pesawat-pesawat pemberontak. Laporan sejumlah media Turki menyebut pilot-pilot loyalis Erdogan menembak jatuh helikopter pemberontak dan mengebom landasan pacu untuk mencegah pesawat pemberontak lainnya melakukan lepas landas.

(Pesawat Gulfstream 4 TC-ATA)

Ada beberapa contoh dalam sejarah kudeta militer di mana pesawat tempur canggih memainkan peran penting. Kini, pasca-kudeta militer gagal, Angkatan Udara Turki—salah satu yang terbesar dan paling modern di Eropa—dalam proses perombakan besar-besaran/pembersihan dari para pengkhianat, dimana dalam kudeta militer Turki unit Angkatan Udara merupakan unsur terbesar pengkudeta. Bahkan komando kudeta adalah Akin Ozturk yang merupakan mantan Panglima Angkatan Udara Turki.

"Tampaknya para pemberontak sangat teratur, terutama di Angkatan Udara," kata Arda Mevlutoglu, mengacu pada langkah militer Turki yang memilih opsi Angkatan Udara sebagai “motor” kudeta, kepada The Daily Beast, Selasa (19/7/2016).

Pasukan Anti-Erdogan setidaknya menguasai empat jet tempur F-16, empat KC-135 tanker udara, sepasang helikopter Blackhawk, enam pesawat angkuat C-160 dan C-130 dan banyak pesawat militer lain. Data ini belum termasuk laporan 42 helikopter militer Turki yang hilang dari markas dan sejumlah kapal Angkatan Laut yang bertugas di Laut Merah.


Ahli penerbangan Italia, David Cenciotti, menuliskan analisa situasi lalu lintas kontrol udara Ankara dan sekitarnya saat kudeta pecah, dalam sebuah blog di The Aviationist. Menurutnya, pukul 22.00 pada malam hari tanggal 15 Juli 2016, sepasang jet tempur F-16 bersenjata telah lepas landas dari pangkalan udara Akinci, sebelah utara dari Ankara.

Pengendali lalu lintas udara, tampaknya berpihak pada pemberontak, dengan berkomunikasi via radio dengan rekannya di bandara Esenboga di Ankara. Menurutnya, ketika jet-jet F-16 pemberontak terbang tinggi di atas Ankara, koordinasi dengan kontrol lalu lintas udara lokal tidak akan mungkin terjadi.

Sumber:
- https://theaviationist.com/2016/07/18/exclusive-all-the-details-about-the-aerial-battle-over-turkey-during-the-military-coup/
- https://theaviationist.com/2016/07/16/turkish-f-16-patrolling-the-skies-near-ankara-could-be-tracked-online/
- http://international.sindonews.com/read/1124803/43/begini-cara-erdogan-lolos-dari-pembunuhan-f-16-saat-kudeta-1468988374


Read More »

Kesaksian Turis Saat Malam Mengerikan Penyerbuan Pasukan Kudeta di Hotel Tempat Erdogan


[beritanews33.blogspot.com] Jumat, 15 Juli 2016, saat gelap mulai menyelimuti resort turis popular di Marmaris, Presiden Recep Tayyip Erdogan menerima panggilan telepon yang mengatakan padanya hidupnya dalam bahaya begitu pula dengan masa depan Turki.

Di ujung telepon seorang komandan militer memperingatkannya bahwa 3 helikopter militer Blackhawk membawa para prajurit pemberontak sedang dalam perjalanan menuju tempatnya dengan misi untuk membunuhnya atau menangkapnya.

Sang presiden berusia 62 tahun itu lalu dibawa pergi dibawah pengawalan bersenjata ke sebuah jet pribadi (pesawat Gulfstream 4) yang menunggu di sebuah lapangan udara terdekat saat 3 helikopter Blackhawk menyapu resort tempat ia tinggal. Tapi bahkan di udara terror bagi sang pemimpin Turki itu belum berakhir saat ia diberitahu ada 2 jet F-16 yang mengudara untuk menembak jatuh pesawat jet kepresidenan itu.

Hanya pemikiran cepat dari pilot-pilotnya menghindari bencana saat mereka mampu "menyamarkan" identitas jet kepresidenan Gulfstream dan menipu para pilot F-16 pemberontak untuk berpikir pesawat yang membawa Presiden Turki itu merupakan pesawat penumpang/komersil. (Baca: Begini Cara Erdogan Lolos Dari Sergapan F-16 Saat Kudeta)

Dua jam kemudian Erdogan sudah aman di Istanbul dan telah bersama mereka yang loyal padanya untuk menekan kudeta.

Pikiran dibunuh atau bahkan menjadi tawanan kemungkinan tak dipikiran oleh Mr Erdogan saat ia tiba di vila pribadi di Marmaris yang dimiliki oleh mantan pengemudi reli Serkan Yazici.

(Resort di Marmaris milik Serkan Yazici tempat Erdogan berlibur saat terjadinya kudeta)

Ayahnya Ibrahim, yang meninggal dalam serangan jantung pada 2012, adalah teman dekat dari sang presiden berkat karir politiknya sendiri. Ibrahim adalah seorang anggota parlemen Turki 2 periode dari 1996 hingga 2002, sebagai seorang deputi dari partai ANAP dan DYP.

Keluarganya memiliki hotel Yazici Mares dan sebuah hotel yang berdekatan, The Grand Yazici Club Turban, dimana turis-turis Inggris terbangun dengan suara tembakan saat pasukan kudeta mencoba membunuh sang presiden.

(The Grand Yazici Club Turban berdekatan dengan resort tempat Erdogan, hotel The Grand Yazici Club Turban ini ditembaki pasukan kudeta mengira disitu Erdogan berada)

Erdogan kemudian mengakui ia terhindar dari kematian (di malam itu dari serbuan pasukan kudeta) hanya sekitar 15 menit dan memuji telepon dari Komandan First Army Jenderal Umit Dundar satu jam sebelum kudeta dimulai yang menyelamatkan hidupnya.

Menurut berbagai laporan media Turki komandan Dundar memberitahunya pasukan pemberontak mengarah menuju villanya di resort Marmaris untuk entah membunuhnya atau memenjarakannya.

(Pesawat Gulfstream 4)

Saat jet Gulfstream 4 seharga 30 juta pound itu mengudara 3 helikopter serbu membawa para pasukan khusus mendekati vila liburan di Marmaris itu.

Para prajurit kudeta menyerbu hotel yang mencari presiden Erdogan untuk entah menangkap atau membunuhnya – tapi mereka 15 menit terlambat.

(Pasukan kudeta menyerbu hotel, 15 menit setelah Erdogan meninggalkan tempat itu)

Para prajurit yang loyal kepada sang presiden terlibat dalam kontak senjata dengan para pemberontak.

Turis yang tinggal di hotel itu terbangun oleh suara helikopter Blackhawk terbang rendah dan lalu tembakan senjata saat pertempuran menghebat.

Diantara mereka yang ketakutan oleh pertempuran senjata itu adalah keluarga Dignan yang dipaksa untuk berlindung di lantai tempat tidur mereka.

Mike dan istrinya Sarah berbaring berdempetan bersama saat tembakan senjata terjadi.

Mr Dignan, dari Rosyth, Skotlandia, memberitahu koran Sunday Post tentang yang terjadi bahwa itu merupakan ‘malam terkelam dalam hidup mereka.’

Dia menceritakan: ‘Saya terbangun oleh sebuah guncangan besar. Saya kira ada tank. Ternyata itu adalah helikopter militer. Mereka berwarna hitam jadi kami hampir tak dapat melihat mereka di kegelapan.'

‘Mereka menyinari hotel di sebelah. Kami mulai mendengar tembakan senjata kecil. Sehabis itulah ada tembakan dan lalu itu menjadi lebih keras.'

‘Polisi mulai menembaki helikopter itu. Lalu helikopter itu mulai menembak balik. Kami mengurung diri kami sendiri didalam kamar.'

‘Kami mendengar teriakan dan orang-orang lari keluar kompleks kami, beberapa melewati pintu kami. Beberapa (tentara kudeta) mencoba untuk menuju hotel di sebelah untuk mendapatkan Erdogan dan polisi melawannya.’

Seorang pekerja IT, Mike (40), dan pekerja bakery Sarah (39), hampir 2 minggu dalam liburan mereka di Marmaris saat kudeta diluncurkan pada Jumat malam.

Tamu hotel lain, Gertjan de Graaf, dari Belanda, menyebut: ‘Kami tak tidur sama sekali tentunya, tapi saya masih tak capek.'

‘Saya ragu saya akan tidur lelap malam ini. Seorang Turki pagi ini memberitahu kami bahwa kami harus kembali ke Belanda.'

‘Kami tak mau, tapi sekarang sepertinya kami akan dikirim ke hotel lain. Pikiran saya dihantui. Bagaimana jika militer kembali ? Resort ini entah bagaimana masih terhubung dengan Erdogan.’

Mr de Graaf dan keluarganya tiba kembali di hotel mereka sekitar jam 11.30 malam dimalam kudeta, menyalakan tv dan melihat berita mengenai kekacauan di Turki.

‘Saya rasa ini buruk bagi orang-orang Turki, tapi Istanbul dan Ankara sangat jauh (dari Marmaris), jadi saya tak perlu khawatir dan pergi tidur.’

Tapi mereka terbangun sekitar pukul 3.30 am oleh suara tembakan senjata -yang awalnya mereka kira kembang api- dan istrinya Theresa pergi ke pintu untuk melihat apa yang terjadi.

Theresa melihat pemandangan para pemberontak militer berlarian di hotel dipersenjatai dengan senapan mesin.

‘Theresa ingin lihat apa yang terjadi, tapi ia menemukan dirinya berhadapan face to face dengan seorang prajurit dengan senapan mesin ditangannya,’ lanjut Mr de Graaf menceritakan.

Para prajurit ini berteriak dengan bahasa inggris tak bagus: 'Where Erdogan stay? Erdogan stay?'

De Graaf membangunkan anak-anaknya dan keluarga ini bersembunyi di kamar mandi, putrinya menangis.

Polisi lalu tiba sekitar jam 5 pagi dan ada lebih banyak tembakan senjata, ledakan dan helikopter mengudara.

‘Terus terjadi. Secara sporadik kami mendengar ledakan keras,’ sebut Mr de Graaf, yang tidak meninggalkan kamar mandi hingga jam 6 pagi saat semua telah mereda.

Dua peluru telah memecahkan kaca di jendela kamar. Handuk yang bergantung diluar balkon terkena 7 peluru. Keluarga ini tak diperbolehkan meninggalkan kamar mereka hingga jam 9 pagi.

[Foto kondisi hotel yang diserbu pasukan kudeta. Bekas peluru saat pertempuran]






Sumbe: Daily Mail


Read More »

Terungkap Rencana Untuk Adili Erdogan Jika Kudeta Berhasil, Skenario Mirip Mursi


[beritanews33.blogspot.com] ISTANBUL - Kepolisian Turki berhasil mengungkap sebuah dokumen hukum yang diduga dibuat untuk memulai investigasi terhadap pejabat-pejabat senior pemerintah jika kudeta Turki yang berlangsung pekan lalu sukses menggulingkan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Keterangan seorang sumber yang tidak disebutkan namanya pada Kantor Berita Anadolu Agency, Kamis, (21/7/2016) menyebutkan dokumen berupa petisi itu ditemukan dalam penggeledahan di kantor Jaksa Penuntut Umum Mehmet Sel di Istanbul menyusul penangkapannya. Dokumen itu menyebut nama Recep Tayyip Erdogan diantara orang-orang yang akan menghadapi dakwaan terkait “proses solusi” untuk mengakhiri konflik dengan warga Kurdi.

Mehmet Sel merupakan salah satu dari 72 hakim dan 39 jaksa dari Istana Keadilan Anadolu yang dipecat pada Sabtu, 16 Juli, dia kemudian ditahan terkait hubungannya dengan usaha kudeta Turki yang gagal.

Dalam dokumen yang ditujukan kepada kantor kepala jaksa penuntut di Inegol, Provinsi Bursa, Turki tersebut tercantum nama Erdogan, Menteri Dalam Negeri Efkan Ala, Kepala Organisasi Intelijen Hakan Fidan, beberapa gubernur provinsi, mantan Perdana Menteri Ahmet Davutoglu, serta mantan wakil perdana menteri Besir Atalay dan Yalcin Akdogan.

Mereka dituduh mendukung kelompok teroris antara tahun 2009 sampai 2015 dengan melakukan pembicaraan damai dengan para pemimpin militan Kurdi PKK.

Nama-nama itu dijadikan subyek pemeriksaan atas tuduhan “melakukan kejahatan membantu organisasi bersenjata dengan tidak menghiraukan persiapan penyerangan mereka”.

Petisi tersebut tidak diberi tanggal ataupun tanda tangan, selain hanya tertera tahun 2016 di dalamnya, yang mengesankan bahwa dokumen tersebut telah dipersiapkan untuk digunakan jika kudeta berhasil.

Skenarionya mirip sekali (bahkan copy paste) dengan skenario yang diberlakukan pada Mursi di Mesir. Saat kudeta yang dipimpin As-Sisi berhasil, Presiden Muhammad Mursi kemudian didakwa dan divonis pengadilan dengan hukuman seumur hidup atas tuduhan spionase, membocorkan rahasia negara, dll.

(Baca: Pengadilan Mesir Vonis Mursi Penjara Seumur Hidup)

Kudeta era modern saat ini akan menggunakan instrumen tidak hanya militer, tapi juga aparat hukum untuk memuluskan dan menuntaskan tujuan kudeta, sehingga kudeta akan memiliki "legalitas" di mata dunia, seperti saat ini yang terjadi di Mesir. Kudeta sudah "legal" dan "direstui" dunia dengan dagelan pengadilan.

Alhamdullah di Turki gagal. Allah sebaik baik pembuat makar....

Presiden Erdogan dan Turki adalah bagai oase bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Semoga Allah SWT selalu lindungi Erdogan dan rakyat Turki dari makar-makar jahat musuh-musuh Islam.

Sumber: Anadolu Agency


Read More »

15 Juli Menandai Kelahiran Sebuah Periode Baru Turki


Oleh: BURHANETTIN DURAN
(Kolumnis Daily Sabah, Turki)

Pada Jumat (15/7) malam, Turki menyaksikan sebuah percobaan kudeta yang dirancang oleh Gulenist terror organization (FETO). Para pengkudeta, yang mengambil alih beberapa institusi dan titik penting di Istanbul dan Ankara dengan kekuatan senjata, digulung berkat refleks demokratis rakyat dan kepemimpinan presiden Recep Tayyip Erdogan.

Usaha yang dilakukan oleh Departemen Kepolisian dan Badan Intelijen Nasional (MIT) ini memainkan sebuah peran penting dalam melawan pemberontakan dalam sebuah konteks dimana bagian yang signifikan dari militer tidak mendukung perjuangan anti-kudeta.

Kita telah melihat banyak cerita yang diliput oleh media yang menggambarkan heroisme yang ditunjukkan oleh rakyat kita sembari melawan kudeta.

Rakyat kita yang pemberani, yang membela demokrasi kita dengan berdiri melawan tank, saat tubuh mereka ditargetkan dengan peluru, telah terekam di halaman-halaman kejayaan dalam sejarah kita. Reaksi demokratis yang ditunjukkan oleh seluruh segmen masyarakat telah membangun sebuah mitos dan mendemonstrasikan betapa kuat dan berkembangnya kesadaran politik bangsa kita.

Saya menyaksikan kegigihan orang-orang terhormat yang berbaris menuju jembatan Bosporus meski tembakan-tembakan senjata api mematikan dari berbagai tank. Kami telah mendapatkan banyak data teknis yang menjelaskan alasan dibalik kegagalan percobaan kudeta ini. Tetapi, alasan utama kegagalan mereka adalah ketidakmampuan dan ketidak-kompetenan mereka dalam menganalisa politik Turki.

Mereka tidak memprediksi bahwa rakyat Turki akan dengan kuat mendukung para negarawan yang mereka pilih, institusi mereka, masa depan mereka dan lebih penting lagi tanah air mereka. Rakyat Turki melindungi keinginan mereka sendiri dengan reaksi mereka pada malam itu, membuktikan bahwa "hanya mereka yang bisa mengubah kekuatan berkuasa di Negara ini".

Ketidaksukaan pada Erdogan, yang telah dikonsumsi oleh kelompok-kelompok oposisi selama ini, adalah faktor utama yang membuat para pengkudeta salah sangka. Mereka melebih-lebihkan efek dari fackor ini dan tertangkap dalam ilusinya. Mereka berasumsi bahwa penentang Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) akan bersatu mendukung kudeta.

Mereka berharap mereka akan mendapatkan dukungan langsung atau tak langsung dari berbagai segmen masyarakat jika mereka bisa membentuk sebuah aliansi pembangkang didalam militer. Mereka mengira warga Negara sekuler, kiri, nasionalis atau Alevi akan turun ke jalan untuk mendukung kudeta. Para anggota FETO meremehkan perbedaan antara memberikan modal/sokongan kepada lawan dan membentuk sebuah aliansi untuk kudeta yang mereka pimpin.

Mereka mengabaikan kesadaran politik para pendukung AKP, mengabaikan apa yang telah mereka pelajari dari proses 28 Februari, memorandum 2007 dan percobaan kudeta yudisial pada 17 Desember. Kesalahan (kesalahan prediksi/asumsi) ini mewakili sebuah pola pikir tak rasional yang melambungkan peran mereka sendiri (para pengkudeta) hingga ke tingkat yang hampir seperti messiah/penyelamat.

Dengan tingkat pluralism, level perkembangan dan dinamisme dan diatas semuanya, Turki sekarang berada dalam kondisi maju yang tak akan bisa dikuasai oleh sebuah rezim kudeta. Dalam hal ini, aspek utama yang mencegah kudeta adalah pandangan pada masa depan yang dimiliki institusi-institusi politik, media dan masyarakat sipil dan akal sehat rakyat, yang mengetahui dengan baik bahwa sebuah kudeta hanya dapat membawa kekacauan dan perang sipil.

Saya dapat merujuknya/meyebutnya sebagai “persepsi Turki mendalam,” yang menyadari pentingnya stabilitas dan perdamaian. Konflik-konflik ideologis dikesampingkan, semuanya akan dirugikan dalam sebuah skenario kudeta. Tank-tank yang memblokir jembatan mendemonstrasikan bagaimana semua warna kehidupan akan menghilang di hadapan kudeta.

Tank-tank di jembatan-jembatan menyimbolkan transformasi yang kami jalani pada 15 Juli dan menandai sebuah periode baru. Karena alasan ini, dapat dikatakan bahwa malam 15 Juli membuat sebuah tanda baru, dimulainya sebuah fase.

Malam itu, guncangan yang telah kita alami selama 3 tahun belakangan mencapai puncaknya. Kita telah memasuki sebuah periode dimana konsolidasi demokrasi kita tak dapat ditarik kembali. Percobaan kudeta, yang telah menjadi sebuah kartu as di lubang terhadap pemerintahan yang terpilih secara demokratis, diorganisasi sebagai sebuah serangan kamikaze oleh FETO dan gagal. Periode selanjutnya tak hanya termasuk pembersihan struktur parallel yang telah menginfiltrasi institusi-institusi Negara.

Pemberontakan ini harus ditandai sebagai percobaan terakhir dalam sejarah kudeta dengan menghukum mereka yang bertanggung-jawab atas kekacauan ini. Kita harus memperkenalkan sebuah proses baru dimana tendensi pro-kudeta di militer sepenuhnya dihapuskan dan sebuah kontrak sosial baru diciptakan.

Rakyat harus mewaspadai mereka yang mungkin menyia-nyiakan proses ini dengan kekhawatiran bahwa “ini akan menguntungkan Erdogan” dan kepada kampanye internasional yang termotivasi untuk membatasi Turki.[]

Sumber: Daily Sabah


Read More »

Turki: Berselindung Di Sebalik Topeng Yang Koyak


Turki: Berselindung Di Sebalik Topeng Yang Koyak

Oleh: ABDUL HADI AWANG
Presiden PAS (Malaysia)

Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran :

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ (١٢٠ البقرة)

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikut agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikut kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (Surah Al-Baqarah: ayat 120)

Sebaik sahaja gagalnya rampasan kuasa di Turki oleh segelintir tentera yang mengaturnya, keseluruhan negara barat, termasuk negara Islam yang berada di bawah ketiaknya yang busuk itu membuat kenyataan menyokong kerajaan Turki yang dipilih secara demokrasi, dengan peringatan supaya menghormati undang-undang dan hak asasi manusia, termasuk tidak menjatuhkan hukuman bunuh terhadap mereka yang nyata terlibat dengan rampasan kuasa yang telah terkorban dibunuh dan cedera ditembak.

Beberapa minggu dan bulan sebelum rampasan kuasa, beberapa media barat menyiarkan penulisan yang menyatakan kebimbangan dan keraguan terhadap Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan yang dianggap melakukan perubahan yang dikira ancaman dan bahaya oleh mereka khususnya kembali kepada Islam dan mengubah kiblat politiknya dalam hubungan antarabangsa. (merujuk kepada Foreign Afairs 30 Mei, Foreign Policy 15 Jun, New Yorks Times 5 Julai)

Perlu diketahui senario dahulu yang diulang lakonannya, betapa kuasa besar barat yang berjaya menumbangkan kerajaan Uthmaniyyah di awal abad yang lalu, setelah berjaya mengkhadamkan pemerintah umat Islam yang berpeluang mendapat kerusi berkuasa memerintah negara tanpa hala tuju Islamnya, di samping Kerajaan Uthmaniyyah yang sangat uzur itu berjaya ditumbangkan, sehingga tanah air umat Islam dijajah, dipecah dan diperintah, rakyatnya diabdikan, hartanya rompak.

Setelah berjaya meletakkan Kamal Atartuk yang ditabalkan sebagai "Bapa Turki" moden dengan menyingkirkan Islam dan melanyaknya habis-habisan, sehingga dimasukkan ke dalam buku teks di seluruh negara jajahan termasuk negara kita supaya mengagungkan Kamal Atarturk.

Kamal Atartuk seorang ketua tentera diktator disanjung oleh barat sebagai seorang yang paling demokrasi dengan perlindungan istimewa melalui perlembagaan Turki yang dipilih anggotanya secara pilihanraya bebas dan demokratik, telah meletakkan di dalam perlembagaan Turki, prinsip dan konsep sekularisme yang mengharamkan politik Islam dengan apa cara sekalipun.

Sesiapa sahaja pemimpin yang hanya mencuba untuk memasukkan agenda Islam dalam kerajaannya mewajibkan tentera mengambil alih kuasa dengan perlindungan perlembagaan, inilah demokrasi ala Turki. Maka, sesiapa yang mahu memakai jenama Erdogan di Malaysia mesti mambaca dan memahaminya.

Di awal tahun 50 an, Ali Adnan Menderes, seorang tokoh ilmuan Turki (peguam) keluar daripada Parti Kamal Atarturk (Parti Republik Rakyat) dan menubuhkan Parti Demokrat berdasarkan sekularisme mengikut undang-undang Turki.

Parti ini mencapai majoriti besar dalam Pilihanraya Umum 1954 dan Adnan dilantik menjadi Perdana Menteri, beliau berjaya meningkatkan ekonomi Turki dalam aspek pertanian sehingga menjadi negara pengeksport pertanian besar ke pasaran Eropah, dengan mendapat sokongan besar daripada rakyat.

Tiba-tiba tentera dipimpin oleh General Jamal Jorsel merampas kuasa Adnan bersama Menteri Luar Potin Rusydi Zoghlo dan Menteri Kewangan Hasan Pulatkan dijatuhkan hukuman bunuh, kerana dituduh mengheret Turki kepada Islam. Semua negara barat berdiam diri apabila Islam menjadi mangsanya.

Selepasnya, muncul pula Profesor Najmuddin Erbakan tokoh jurutera, pencipta jentera berat diJerman, khususnya menggunakan diesel. Beliau pulang ke Turki pada tahun 1960, sehingga berjaya melahirkan 300 orang pakar jentera dan Turki dapat mengeluarkan 30,000 buah jentera diesel setahun, menjadikannya tokoh yang sangat dihormati di Turki.

Seterusnya, beliau masuk ke alam politik menubuhkan Parti Kebangsaan Turki. Selepas sembilan bulan parti ini diharamkan kerana amaran penglima tentera General Muhsin Batur disebabkan lantangnya bersuara Islam.

Tahun 1972 Profesor Erbakan menubuhkan Parti Selamat Negara dan berkerjasama dengan Parti Artaturk, sehingga dilantik menjadi Timbalan Perdana Menteri, sehingga juga berjaya mengheret Turki menyerang Cyprus bagi menyelamatkan umat Islam yang dibunuh oleh Kristian Ortodok Greece dan memulihkan hubungan Turki dengan negara Islam, serta berjaya mengharamkan Pertubuhan Fremasson yang mendukung perjuangan yahudi, seterusnya menyokong perjuangan Rakyat Palestin. Akhirnya, Jeneral Kanan Ivreen merampas kuasa kerana menyelamatkan sekularisme Turki. Profesor Erbakan ditahan dan diharamkan berpolitik.

Ketika beliau masih dikenakan tahanan rumah pada tahun 1983, saya berkesempatan berkunjung ke rumahnya dan mengenali Profesor Erbakan, selepasnya terjalin hubungan yang sangat akrab dan seringkali mengajak saya mengiringinya dalam lawatan antarabangsa.

Pada tahun 1992, Profesor Erbakan yang masih diharamkan berpolitik menubuhkan Parti Refah (kemakmuran) dengan dipimpin oleh Profesor Ahmad Tekdal.

Pada tahun 1996, Parti Refah mencapai kemenangan bersama Parti Toreliq Qawim (Jalan Betul). Kerjasama yang mencapai kemenangan menubuhkan Kerajaan Campuran, akhirnya Profesor Erbakan dilantik menjadi Perdana Menteri.

Beliau mengambil langkah menubuhkan G8, iaitu gabungan lapan buah negara umat Islam bersama Iran, Mesir, Pakistan, Nigeria, Indonesia, Malaysia dan Bangladesh. Mewujudkan kerjasama ekonomi dan lain-lain.

Adapun Recep Tayyip Erdogan berjaya menang sebagai Datuk Bandar Istanbul, dan akhirnya tentera memaksa Profesor Erbakan meletakkan jawatan dan Parti Refah diharamkan juga, akibatnya juga Profesor Erbakan dan beberapa pemimpin termasuk Erdogan dipenjarakan. Setelah dibebaskan, Profesor Arbakan tidak dibenarkan berpolitik sehingga meninggal dunia pada 27 Februari 2011.

Pengikut tegar Profesor Erbakan menubuhkan Parti Saadat dengan meneruskan pendekatannya. Adapun Recep Tayyip Erdogan dan Abdullah Gol menubuhkan Parti Adalat dengan dasar yang lebih ekstrim berterus-terang sekulernya sehingga mengadakan perjanjian tidak melaksanakan Islam di hadapan para Jeneral tentera, meneruskan hubungan dengan Israel dan barat, sehingga memenuhi segala syarat untuk menjadi anggota Kesatuan Eropah (EU) namun tidak diluluskan juga.

Langkah yang dimarahi oleh gurunya Profesor Erbakan, namun Erdogan memekakkan telinga terhadap gurunya tanpa menjawab. Langkah Erdogan membebaskan dakwah dan kegiatan masjid, serta berterus-terang menyokong Palestin, dalam masa yang sama mencipta keadaan memulihkan hubungan dengan Israel, sehingga mendedahkan diri kepada kritikan yang keras daripada dalam dan luar, tetapi tidak mendapat kepercayaan barat dan sekutu-kutunya.

Bahkan, polisi barat mengepung Turki terlibat dengan krisis negara jirannya, dan sekutu barat menguatkan ancaman pemberontak komunis Kurdis, dan mencipta tembakan Turki ke arah pesawat Rusia dan lain-lain.

Barangkali kerana Erdogan dan rakan-rakan yang akrab dengannya tetap bersolat dan beramal dengan cara hidup seorang Islam, isteri-isteri mereka berjilbab dalam majlis rasmi pun tetap menjadi teguran yang keras daripada golongan sekular, walaupun di atas konsep demokrasi dan hak-hak asasi manusia terhadap masing-masing.

Akhirnya merobekkan topeng barat yang menipu dan berpura-pura terhadap umat Islam disepanjang masa, menunjukkan prajudis, oportunis, "double-standard", hasad dan lain-lain sifat lagi yang sangat negatif terhadap Islam, walaupun Islam dan penganutnya sangat berbudi dan berbahasa terhadap mereka, sejak zaman keemasan tamadun Islam sehinggalah zaman menjadi sasaran kezaliman mereka, dengan penjajahan, perhambaan, sehinggalah dijadikan mangsa pembunuhan perebutan kuasa dan ujian senjata.

Umat Islam terus menjadi sasaran fitnah kerana agamanya. Demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan yang sebenar, keadilan yang saksama hanya ungkapan manis yang tidak dirasa kalau berbau Islam sahaja. Semua kemenangan parti yang berteraskan Islam atau ada tanda-tanda menuju ke arah Islam tanpa mengira bangsa dan mazhab tetap dinafikan.

Sejarah kemenangan Masyumi di Indonesia di tahun 50an diguling dan diharamkan, kemenangan Mujahidin Afghanistan menghalau Soviet dikacau-bilaukan sehingga mencetuskan huru-hara yang tidak padam sehingga kini, begitu juga kemenangan Parti Islam Fis di Algeria hanya dalam pilihanraya Majlis Perbandaran dirampas kuasa dan diharamkan secara terbuka, menjatuhkan Presiden Mursi di Mesir dengan dramanya yang tersendiri, sikap barat terhadap Revolusi Islam bermazhab Syiah di Iran juga dipulau dengan fatwa negara barat sehingga menyekat segala usahanya menyatukan umat menentang Israel dan lain-lain.

Kini giliran Turki dengan pendekatan Erdogan yang dinafikan Islamnya secara undang-undang yang merumitkan, dilakukan rampasan kuasa tentera yang diulang senarionya tiba-tiba menemui kagagalan. Sebaik sahaja beritanya tersebar, dapat disaksikan betapa negara penjajah dan sekutunya menunggu dan lihat siapa yang menang.

Kecuali Mesir yang menyokong rampasan kuasa gagal itu secara berani kerana mengikut sunnahnya, sehingga lebih ke hadapan daripada Israel yang membisu.

Semua negara barat terkini mendesak supaya Turki menghormati undang-undang tidak menjatuhkan hukuman mati oleh mahkamahnya nanti ke atas mereka yang nyata terlibat dalam rampasan kuasa yang gagal itu, sedangkan mereka boleh melakukan pembunuhan kerana perbezaan warna kulit membunuh beramai-ramai menyerang Afghanistan dan Iraq kerana khabar angin adanya senjata merbahaya atau adanya seorang sahaja yang diburu seperti Osama bin Laden, Saddam Hussin, Muammar Ghadafi atau Ayatullah Khomeini dan sebagainya, sebaliknya melindungi Salman Rusydi dan rakan-rakannya tanpa mahkamah dan bukti yang kukuh.

Mereka juga memejam mata terhadap pembunuhan rakyat Palestin, Rohingya dan terakhirnya hukuman mati ke atas para pemimpin Jamaat Islami di Bangladesh kerana kesalahan tidak menyokong perpecahannya daripada Pakistan setelah berlalunya masa lebih empat puluh tahun.

Perlu diperkenalkan tiga tokoh yang mengagalkan rampasan kuasa Turki, mereka bersama Erdogan, mereka ialah, Perdana Menterinya Binali Yildirim, Pemangku Penglima tentera yang memimpin operasi menentang pemberontakan, Jeneral Omet Dawardar dan Ketua Perisikan, Jeneral Dr. Hakan Fidan.

Kali ini diharapkan jeratnya tidak mengena, laksana ayamnya terlepas, tangan berbau najis.

Benarlah firman Allah SWT di dalam Surah Al-Baqarah, ayat 109 :

وَدَّ كَثِيرٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَوۡ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعۡدِ إِيمَٰنِكُمۡ كُفَّارًا حَسَدٗا مِّنۡ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَٱعۡفُواْ وَٱصۡفَحُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ (١٠٩البقرة.)

"Banyak di antara ahli kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, kerana rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

"BERISTIQAMAH HINGGA KEMENANGAN"


ABDUL HADI AWANG
Presiden PAS

16 Syawal 1437H / 21 Julai 2016M

*Sumber: https://www.pas.org.my/kenyataan-berita/9060-turki-berselindung-di-sebalik-topeng-yang-koyak


Read More »

Cerita WNI yang Tinggal di Turki: Erdogan Memang Dicintai Rakyatnya, Mereka Rela Berkorban


[beritanews33.blogspot.com] Seorang WNI yang telah menetap di Turki 13 tahun, Sera Ari, menuturkan tentang kecintaan rakyat Turki terhadap SULTAN ERDOGAN.

Hal ini ditunjukan dengan dukungan luas rakyat Turki saat terjadinya kudeta militer Jumat (15/7) lalu dan pasca kudeta dimana rakyat Turki masih "stand by" dengan turun ke jalan-jalan/taman-taman mengantisipasi kalau-kalau terjadi kudeta lanjutan.

"Semalam kotaku ramai pawai sampai jam 12 malam, dan di meydan pada kumpul sampai selesai sholat subuh baru balik rumah, entar malam setelah sholat magrib kumpul lagi," tutur Sari yang tinggal di kota Samsun, Turki.

"Kalau memang ERDOGAN pemimpin diktator, ngapain rakyatnya mau menyiksa diri tinggalkan rumah sampai rela tidur diluar sambil memanjatkan doa demi menjaga negara dan pimpinannya dari ancaman kudeta susulan," lanjut Sari.

Sari juga mengunggah foto dirinya mengenakan kaos merah bertuliskan TURKEY dan memposting di lama fb-nya dengan mengungkapkan kecintaannya pada Turki.

"I love you turki ❤❤❤❤, semoga negara turki, pimpinannya dan rakyatnya selalu dilindungi oleh Allah Swt, terutama gelin-gelin indonesia dan keluarganya Aamiin.... ‪#‎SALAM4JARI‬," ujarnya.


Menepis Isu Kudeta Settingan

Mengenai isu kudeta settingan yang dihembuskan oleh beberapa pihak yang tak suka dengan Erdogan, Sari juga menanggapi.

"Jendral Hulusi Akar kepala staf militer turki dia disiksa karna tidak mau menandatangani kudeta atas erdogan karna dia bukan pengkhianat negara berarti ini juga setingan erdogan??"

"Uda gitu kapten pilot namanya Albay Murat yg membom hotel erdoğan uda ditangkap jadi ini juga setingan erdogan??"

"Jangan-jangan aku ngga mudik-mudik itu juga setingan erdogan padahal itu setingan sibaba (ngakak)," ujarnya.

"Makanya sebenci-bencinya anda sama erdoģan janganlah memfitnah. Kalau aku sich terus terang bangga dengan presiden Turki karna dia pemimpin Amanah karna sudah merasakan selama tinggal di Turki banyak kemajuan apa lagi masalah agama islam, belum ada lawan politiknya yg sebagus beliau dan herannya orang yg ngga tinggal di Turki kok pada nyiyir ya padahal ke Turki aja belum," ujar Sera Ari di status fbnya.


Demikian sedikit penuturan WNI yang sudah menetap di Turki 13 tahun, tahu kondisi kemajuan Turki yang dipimpin Erdogan.

Buat ente yang nyinyirin Erdogan, camkan perkataan Sera Ari: "Orang yg ngga tinggal di Turki kok pada nyiyir ya padahal ke Turki aja belum."

Kaum nyinyirin Erdogan emang kurang piknik :)

(Dihimpun redaksi beritanews33.blogspot.com dari beberapa status fb: fb-1, fb-2, fb-3)


Read More »

Kompas: Pasca Percobaan Kudeta, Erdogan Belum Stop Balas Dendam; Netizen: Pembodohan Ala Kompas


[beritanews33.blogspot.com] Publik netizen di Indonesia geram dengan pemberitaan media Kompas.com pada Rabu (20/7/2016) yang berjudul:

"Pasca Percobaan Kudeta, Erdogan Belum Stop Balas Dendam"

Link: http://internasional.kompas.com/read/2016/07/20/22083391/pasca.percobaan.kudeta.erdogan.belum.stop.balas.dendam

"Judul berita kompas terkesan pembodohan seakan pemerintahan ERDOGAN dibangun dengan dendam," ujar netizen Lou Chin Lung di laman facebooknya mengomentari berita Kompas tersebut.

"Judul yang lebih tepat adalah: "Pasca percobaan kudeta, KOMPAS dendam kepada ERDOGAN"." tambah Lou Chin Lung.

Banyak netizen yang mengomentari judul dan berita kompas itu.

"Apa salah nya Erdogan sama kompas? Sinis banget media kafir," komen Meriam Permana.

"Kelompok sakit hati #gagalkudeta," kata Ari Suryaningsih.

"Kompas, komando pastur, isinya selalu menjelekkan tokoh tokoh islam, nanti kita lihat di pengadilan akherat...tangan tangan jurnalis iblis numpuk di kompas," ujar Maulana Mustika.

"Kompas ga henti2nya menyudutkan umat Islam," ujar Anto Sugianto.

"Media ini makin menunjukan kebenciannya thd Islam... makin berani sejak rezim sempak ini berkuasa," komen Kai Nayala.

(Sebagian kegeraman netizen pada Kompas)

(Capture isi berita Kompas. Banyak typo, dan menyebut amarah Erdogan terus membara)


Read More »

Israel Siap Tampung Komandan Kudeta Turki

(Avigdor Lieberman dan Akin Ozturk)

[beritanews33.blogspot.com] Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman menawarkan suaka politik kepada komandan kudeta gagal di Turki, Akin Ozturk.

Tawaran suaka politik tersebut disampaikan Lieberman melalui akun Facebook milik kementerian Israel.

Lieberman mengaku sudah mengenal Akin sejak tahun 90-an ketika Akin menjabat atase keamanan kedutaan Turki untuk Israel. Akin pernah menjabat sebagai atase keamanan kedutaan Turki untuk Israel pada tahun 1996-1998.

Dalam salah satu acara di kota Haifa, Lieberman bertemu dengan Akin, sejak itu Lieberman kagum dengan pribadi Akin yang kemudian membuat mereka menjadi dekat.

Menurut Lieberman, walaupun Akin saat ini menjadi sorotan dunia karena memimpin kudeta terhadap pemerintah yang sah di Turki, namun Lieberman tetap meyakini kapabilitas Akin, Lieberman tetap meyakini Akin adalah pribadi yang hebat. Karena itulah Lieberman menawarkan suaka politik.

Lieberman mengatakan tanah Israel selalu terbuka menyambut kedatangan Akin yang sudah dianggap sebagai teman dekat oleh bangsa Israel.


Pada Sabtu (16/7) Akin Ozturk akhirnya ditangkap terkait aksi kudeta militer yang berlangsung Jumat malam. Mantan komandan Angkatan Udara Turki merupakan anggota Dewan Tertinggi Militer Turki.

Sumber: alarab.qa


Read More »

Para Jurnalis Sampaikan Indikasi Keterlibatan AS Dalam Kudeta Turki


Semakin menarik untuk menelisik apakah Amerika terlibat dalam kudeta berdarah 15 Juli lalu di Turki? Atau setidaknya mengetahui perihal rencana kudeta tadi.

Sebelumnya, Duta Besar AS di Ankara membantah tegas spekulasi keterlibatan negaranya dalam malam berdarah tersebut dan menganggap spekulasi itu tanpa dasar. Sementara Menlu AS John Kerry menyebut tuduhan tersebut akan membahayakan hubungan kedua negara.

Mantan jurnalis The Guardian David Hearst setidaknya yang pertama mencurigai adanya indikasi keterlibatan AS, setidaknya mengetahui (prior notice) adanya rencana kudeta. Naluri jurnalistiknya menangkap adanya keganjilan dari statemen John Kerry di jam-jam awal kudeta. John Kerry menyampaikan pernyataan yang bersayap, yang sama sekali tidak menjelaskan posisi AS sebenarnya dalam merespon kudeta berdarah kelompok militer di Jumat malam itu. Kerry hanya menyampaikan keinginan pemerintah AS akan stabilitas, keamanan dan kesinambungan di Turki.

Namun keesokan harinya, ketika meyakini percobaan kudeta itu gagal, baru Obama menyampaikan posisi terang Amerika yang menolak kudeta dan mendukung pemerintahan yang dipilih rakyat.

Kecurigaan ini didukung mantan jurnalis senior Aljazeera Wardah Khanfar, bahwa ketidaktegasan pemerintah Amerika di awal kudeta menunjukkan adanya derajat ‘pengetahuan’ tersebut dan dalam sejarahnya tidak ada kudeta di Turki tanpa sepengetahuan dan sepersetujuan Amerika. Selain itu -menurutnya- faktanya ada personil militer dan peralatan perang AS di pangkalan udara Incirlik (yang merupakan salah yang digunakan pihak kudeta sebagai basisnya).

Sementara seorang pakar hubungan luar negeri kenamaan, Eric Margolis, dalam twitnya juga memberikan perspektif yang serupa. Menurutnya, ketelibatan AS dalam kudeta bisa dilihat dari keengganan pemerintah Obama menyerahkan Fethullah Gulen. Namun, dia juga menengarai kegagalan kudeta akan semakin memperkuat posisi Erdogan dalam memberangus lawan-lawan politiknya.

Namun boleh jadi titik krusial perihal spekulasi itu, justru ada di pangkalan udara AS di Incirlik, Turki. Pemerintah mengungkapkan bahwa para pelaku kudeta mendapat dukungan signifikan dari Incirlik. Sabtu, pemerintah Turki segera menyegel lapangan terbang tersebut dan memutuskan aliran listrik karena adanya fakta beberapa pesawat F16 pembelot sempat mengisi bahan bakar disana.

Setelah itu, komandan pangkalan udara Incirlik yang menjadi tempat penyimpanan senjata taktis nuklir AS, Jenderal Bekir Ercan bersama 10 prajurit lainnya dan seorang polisi ditangkap dengan tuduhan terlibat dalam kudeta. (Top officers at Incirlik Air Base arrested in Turkey coup attempt).

Turki juga langsung menghentikan semua operasi AS di Incirlik yang selama ini dipakai AS dalam operasi di Suriah melawan ISIS.


Dalam perkembangan penyelidikan, terungkap bahwa Brigadir Jenderal Hasan Polat, salah satu pemimpin kudeta dan anggota FETO (Kelompok terror Gulenis) ternyata telah melakukan serangkaian pertemuan dengan seorang Kolonel dan Letnan Kolonel AS di lapangan udara Incirlik yang disebut-sebut membicarakan kalkulasi korban sipil dalam rencana kudeta yang akan dijalankan.

Namun yang jelas, tuntuan ekstradisi Turki atas Fethullah Gulen akan memberikan komplikasi politik rumit bagi AS. Jika sebelumnya, pemerintah Erdogan ‘setengah tutup mata’ dalam permintaan ekstradisi sebelumnya, namun kini tuntutan sebagaimana dikatakan juru bicara kepresidenan Turki akan menjadi batu ujian terbesar solidaritas AS atas pemerintah yang dipilih secara demokratis di Turki.

Ankara sebelumnya terlibat perselisihan dengan Washington karena dukungan AS kepada YPG, milisi bersenjata Kurdi yang dicap pemerintah Turki sebagai kelompok teroris. AS memanfaatkan kelompok ini dalam memerangi ISIS di Suriah. Bagi Turki, YPG tidak lebih dari kepanjangan kelompok teroris PKK yang beroperasi di perbatasan Turki-Irak. Baik YPG dan PKK dituding berada di balik serangkaian pemboman di wilayah Turki.[MEU]


Read More »

Turki Berlakukan Keadaan Darurat 3 Bulan, Erdogan: Ancaman Kudeta Belum Selesai


[beritanews33.blogspot.com] ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan pada hari Rabu pemberlakuan keadaan darurat selama 3 bulan di seluruh negeri pasca kudeta yang membunuh 246 orang dan melukai lebih dari 1,500 lainnya. Pada Kamis pagi, keputusan ini dipublikasikan melalui Official Gazette (Lembaran/Dekrit Negara) dan langsung berlaku.

Keputusan pemberlakuan keadaan darurat sipil yang diumumkan dalam konferensi pers yang disiarkan langsung televisi pada Rabu (20/7) malam, merupakan hasil pertemuan maraton Dewan Keamanan Nasional Turki dan kabinet di Ankara.

Pemberlakuan darurat sipil ini sesuai Pasal 121 konstitusi Turki, yang mengatur keadaan darurat, menetapkan jangka waktu darurat sipil maksimum enam bulan. Hal ini memungkinkan kabinet di bawah pimpinan presiden untuk mengeluarkan dekrit yang memiliki kekuatan hukum mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keadaan darurat.

"Pemberlakukan kondisi darurat tidak bertentangan dengan demokrasi, supremasi hukum dan kebebasan," kata Erdogan.

"Tujuan dari keadaan darurat ini adalah untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan dengan efektif dan cepat untuk menghapuskan ancaman kepada demokrasi di Negara kita, aturan hukum, dan hak dan kebebasan warga kita," sebutnya.

Memberikan jaminan kepada rakyat Turki, Erdogan berkata: “Jangan khawatir (dengan darurat sipil). Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Justru sebaliknya, otoritas dan keputusan dari para pemimpin (sipil) akan lebih tumbuh dalam proses ini.”

Erdogan mengatakan langkah pemberlakuan darurat sipil itu diperlukan untuk memungkinkan tindakan "cepat dan efektif" terhadap pengkhianat negara dan untuk "menghilangkan ancaman terhadap demokrasi". Eropa "tidak punya hak untuk mengkritik" keputusan untuk menegakkan keadaan darurat, tegasnya.

Pejabat Turki menambahkan: "Negara dan demokrasi kita diserang pada Jumat malam" dan "Selama tahun lalu sejumlah negara termasuk Perancis dan Belgia juga membuat keputusan yang sama (pemberlakuan darurat sipil)."

Pengumuman pemberlakuan darurat sipil ini dirilis pasca Erdogan menyebutkan dalam sebuah wawancara dengan jaringan Televisi Al-Jazeera yang berbasis di Qatar bahwa para pengkudeta mungkin masih aktif dalam minggu-minggu kedepan.

“Saya tidak berpikir kita sudah sampai ke akhir,” sebutnya, mengindikasikan gerakan kudeta belum sepenuhnya selesai.

Keadaan darurat, yang berlaku setelah dipublikasikan di official gazette Turki, akan memperbolehkan presiden dan kabinet untuk melewati parlemen dalam mengesahkan Undang-Undang baru dan untuk membatasi hak dan kebebasan seperti yang mereka rasa perlu.

Erdogan juga menyebut para gubernur akan mendapatkan kekuasaan lebih dibawah keadaan darruat, menambahkan bahwa angkatan bersenjata Turki akan bekerja sejalan dengan keputusan pemerintah.

“Eropa tidak berhak mengkritik keputusan ini,” tambah Erdogan, mengatakan bahwa keputusan ini diambil untuk melindungi warga sipil tak bersalah dari kemungkinan serangan.

Segera setelah siaran langsung, Erdogan berbicara kepada rakyat yang berkumpul di berbagai alun-alun di Konya dan kota-kota lainnya diseluruh Turki dalam sebuah pidato yang disiarkan melalui televisi, menjamin bahwa keadaan darurat ini tak akan membatasi hak-hak fundamental atau kebebasan dan bahwa keputusan ini tidak sama dengan mendeklarasikan martial law.

"Rakyat Turki ingin hidup mulia, rakyat Turki ingin hidup bebas. Bahkan semua umat Islam mengimpi-impikan hidup merdeka. Rakyat Mesir dan Syiria ingin hidup bebas, tapi bukan di bawah moncong senapan," kata Erdogan.

"KAMI TIDAK AKAN MUNDUR SATU LANGKAH PUN KEBELAKANG," tegasnya.

Sumber: Dailay Sabah. Al-Jazeera


Read More »

Oposisi Turki Memberi Pelajaran pada Mesir Bagaimana Menggagalkan Sebuah Kudeta


Turkish opposition gives lesson to Egypt on how to foil a coup

Penulis: Ahmed al-Burai
Bekerja pada BBC World Service

15 Juli 2016 akan menjadi hari terkelam dan terburuk dalam sejarah Republik Turki. Ini hampir sekelam malam 3 Juli 2013 saat Kepala Staf Militer Mesir Jendral Abdel Fatah al-Sisi membekukan konstitusi dan meluncurkan sebuah kudeta militer berdarah yang menggulingkan satu-satunya presiden yang terpilih secara demokratis, Mohamed Morsi.

Berkat kebodohan para pelaku, kudeta Turki dihancurkan dengan cepat dan para pengkudeta diharapkan membayar harga mahal. Presiden Recep Tayyip Erdogan berjanji untuk mempertimbangkan hukuman mati terhadap para konspirator yang melakukan pengkhianatan terhadap negaranya.

Tak seperti Mesir, kudeta Turki dengan cepat digagalkan. Ini karena skema-skema para perencana yang ketinggalan zaman dan kurangnya pengetahuan mengenai kekuatan iPhone 6 dan Skype untuk membangunkan sebuah bangsa terhadap bencana yang dihadapinya. Kudeta ini juga digagalkan oleh persatuan kelompok-kelompok masyarakat, media-media Turki, partai oposisinya, polisi dan pasukan khusus Turki.

Para pemimpin oposisi (walau berseberangan dengan Erdogan) tahu sejak awal apa yang akan terjadi jika militer mengintervensi dalam pengelolaan demokrasi sipil. Mereka sudah pernah menyaksikannya sebelumnya. Mereka telah menyaksikan akibat-akibat penuh bencana dari kudeta pada tahun 1960, 1971-1973, 1980 dan 1997 (Erbakan). Rasa sakit dan penderitaan rakyat Turki dari kudeta-kudeta berdarah sebelumnya masih segar dalam pikiran.

As-Sisi, atau otak kudetanya, jauh lebih cermat dan terpercaya dari rekan mereka di Turki, meskipun saat mencapai kekuasaan ia terbukti menjadi pemimpin yang payah dan superficial menghadapi tantangan-tantangan politik dan ekonomi serius yang dimiliki Mesir. Sisi sukses dalam menggaungkan National Salvation Front, payung dari kelompok oposisi yang dibentuk untuk menggulingkan presiden yang terpilih secara demokratis untuk pertama kalinya, Mohamed Morsi. Setelah menggulingkan Morsi front ini pun lenyap secara dramatis.

Kekuatan-kekuatan liberal, sekuler dan sekelompok dari partai Salafi bersatu untuk meminta –hal yang paradox- intervensi dari militer untuk melindungi demokrasi dan menyelamatkan Negara tersebut dari apa yang mereka nyatakan sebagai pertumbuhan hegemoni dan kebijakan eksklusif dari rezim islamis Morsi yang radikal.

Tak diragukan, beberapa keluhan mereka (pihak yang berseberangan dengan Morsi -red) adalah komplain yang beralasan, tapi masih dapat ditangani didalam kerangka dan mekanisme masyarakat sipil demokratis. Tidak boleh ada pembenaran bagi entitas politik manapun yang berani menyebut dirinya sendiri sebagai sebuah partai liberal atau kelompok sekuler untuk menyatakan bahwa intervensi militer Mesir bukanlah sebuah kudeta. Partai Salafi al-Nour tanpa henti bereramah tentang kewajiban mematuhi penguasa "Emir", karena mereka percaya itu dilarang agama mengkhianati dia atau melanggar janji setia. Mereka percaya bahwa kita harus mendengarkan dan mematuhi pemimpin apa pun yang dilakukannya, bahkan jika ia memukuli mereka dan (secara ilegal) merebut properti mereka.

Untungnya, oposisi Turki tidak termasuk sebuah partai al-Nour dan mereka memutuskan untuk tidak mendengarkan jendral Akin Ozturk, yang dipercaya sebagai otak kudeta yang mengatakan “Turki adalah ibu dunia dan akan menjadi sehebat dunia,” yang merupakan ungkapan klise Sisi (saat kudeta) yang paling terkenal. Mereka meilih untuk mengalahkan lawan politik mereka secara damai dan politis sementara oposisi Mesir memilih untuk menobatkan seorang militant sebagai dictator-seorang pria yang bahkan tak cukup terdidik untuk memproduksi sebuah arahan yang berarti, apalagi mengurus urusan sebuah Negara seperti Mesir.

Pada permulaan kudeta, ironisnya, Erdogan tampil langsung di saluran televisi yang menjadi oposisi terkerasnya. Erdogan menyapa bangsanya melalui CNN Turk dalam sebuah panggilan video telepon yang benar-benar mengubah jalannya peristiwa. Sebaliknya, saat kudeta militer Mesir 2013, baik saluran-saluran televisi Mesir yang paling professional sampai media-media konyol mereka bersekongkol untuk mengarang/merekayasa berbagai berita dan kejadian, yang kemudian hari terbukti direkayasa, menggunakan segala macam trik untuk meningkatkan/memperkuat jumlah pengunjuk rasa terhadap Morsi.

Sementara di Turki, setelah periode panjang semi-pemboikotan, para juru bicara, anggota parlemen, dan menteri dari AKP semuanya tampil di saluran-saluran TV oposisi. Mereka lebih sering diwawancarai di saluran-saluran yang dengan sengit mengkritisi pemerintah dibanding oleh yang pro-pemerintah. Karena polarisasi politik dan sosial yang parah pasca dua pemilu beruntun di Turki pada 2015, partai-partai politik menjadi semakin tak ramah kepada satu sama lain yang berujung pada pecahnya baku hantam diantara anggota DPR di parlemen pasca kontroversi mengenai undang-undang yang menghapuskan imunitas para anggota DPR.

Semua ini mereda pasca percobaan kudeta. Erdogan menelpon para pemimpin oposisi untuk berterima kasih atas sikap moral mereka yang terutama memainkan sebuah peran besar untuk menggagalkan kudeta tersebut dan menghalangi usaha para pengkudeta untuk menipu komunitas internasional. Sebagai perbandingan, oposisi Mesir secara putus asa mencoba untuk tak hanya memperindah kudeta tapi juga melegitimasi pembantaian yang mengikutinya.

Pasca pengumuman bahwa Morsi digulingkan, para pemimpin oposisi Mesir di Tahrir Square bergembira dan menjargonkan “panjang umur Mesir” dalam adegan yang paling menghina dalam sejarah, saat Mohamed el-Baradei menyebut bahwa “kudeta” 3 Juli adalah untuk mengoreksi/meralat hasil dari revolusi 2011. Paus Koptik Tawadros II, imam besar al-Azhar Ahmed el-Tayeb dan beberapa pemimpin muda dari Tamarod dan partai al-Nour berbicara mendukung intervensi militer ini. Untungnya, Turki tidak menyaksikan sebuah rangkaian kejadian mengerikan semacam ini, jika tidak, Turki akan memasuki sebuah lorong gelap penuh ketidakpastian dan kekacauan politik.

(Kalangan Oposisi Mesir berusaha keras tidak hanya untuk mempercantik kudeta Juli 2013, tetapi juga untuk melegitimasi pembantaian yang mengikutinya)

Tak seperti Abdel Moneim Aboul Fotouh, mantan pemimpin Ikhwanul Muslimin dan pendiri the Strong Egypt Party, yang turut berpartisipasi dalam protes terhadap Morsi pada 30 Juni yang memberi jalan bagi kudeta militer pada 3 Juli, Ahmet Davutoglu, sahabat Erdogan dan mantan perdana menteri Turki, segera pergi menghubungi media untuk dengan jelas menyatakan bahwa apa yang terjadi adalah sebuah percobaan kudeta oleh beberapa faksi dari militer yang secara illegal mencoba untuk menyerang demokrasi Turki.

Dia bangkit diatas perbedaan-perbedaannya dengan presiden Erdogan yang baru-baru ini berujung pada pengunduran dirinya, untuk mendukung demokrasi, berkeras bahwa itu bukan serangan kepada sang presiden sendiri, tetapi sebuah serangan terhadap demokrasi Turki kami.

Kehinaan dari oposisi Mesir semakin dibesarkan saat percobaan kudeta Turki dimulai. Secara absurd, hampir seluruh media Mesir menyambut gembira berita bahwa militer telah mengambil kendali Turki dan bahwa Erdogan akan mengalami nasib seperti Morsi.

Yang terburuk dari sikap penjilat menjijikkan mereka adalah kritikan mereka terhadap dugaan hegemoni dan fasisme Erdogan saat ia mendukung hukuman mati untuk menghukum para konspirator kudeta.

Mereka sama sekali buta terhadap kejahatan-kejahatan yang dilakukan As-Sisi terhadap kemanusiaan dan bahkan melegitimasi pembantaian Rabaa. Saat Turki berdiri tegak untuk menghalangi para pengkhianat yang bertujuan menghancurkan seluruh negeri dan berkonspirasi untuk membajak seluruh system politik, mereka menuduh Turki menciptakan sebuah rezim Nazi yang baru.

Ini terjadi disaat partai oposisi Turki National people’s Party (MHP) menyatakan bahwa mereka akan mendukung hukuman mati saat hal itu (pemberlakuan hukuman mati) dibahas di parlemen. Sebagai kontras, para pemimpin oposisi Mesir terkemuka menyerukan eksekusi massal secara kilat alih-alih penegakan hukum.

Secara menyakitkan, tidak ada politisi pro-kudeta Mesir yang mengekspresikan penyesalan atau mengakui salah menilai situasi yang berujung pada kematian kehidupan politik dan demokratis di Mesir. Semoga, model Turki akan menginspirasi apapun yang tersisa dari hati nurani mereka, jika hal apapun bisa menginspirasinya.

*Ahmed al-Burai adalah seorang dosen di Universitas Aydin Istanbul. Ia bekerja dengan BBC World Service Trust dan LA Times di Gaza. Ia sekarang berbasis di Istanbul dan utamanya focus pada isu Timur Tengah.

Sumber: http://www.middleeasteye.net/columns/turkish-opposition-gives-free-lessons-egyptians-how-foil-coups-1944327478


Read More »

Analis Keamanan Independen: Kenapa Kudeta di Turki tak Punya Kesempatan


Why Turkey's coup didn't stand a chance

Oleh: Metin Gurcan*
Analis Keamanan Independen

Di malam 15 Juli, Turki melalui sebuah tes demokrasi besar yang termasuk sebuah percobaan kudeta, sebuah pemberontakan dan terror terburuk terhadap warganya. Ribuan warga Turki yang turun ke jalan malam itu -meskipun peringatan dari pengkudeta untuk tetap didalam rumah dan mematuhi jam malam- memberikan pesan yang paling jelas: Those who came with elections, will leave with elections (mereka yang datang/berkuasa karena pemilu, akan pergi/meninggalkan kekuasaan juga dengan pemilu -bukan dengan kudeta).

Percobaan kudeta menyaksikan penggunaan tank, persenjataan berat, dan helicopter serbu dan pesawat tempur, sebagian besar di Ankara dan Istanbul; 161 orang tewas, 1,440 terluka dan 2,839 prajurit dari berbagai pangkat, sebagian besar prajurit wajib militer, ditangkap. Sebagai tambahan, 104 pasukan kudeta terbunuh.

Di pagi hari 17 Juli, saat artikel ini dibuat, gesekan telah berakhir tapi penahanan terus berlanjut. Benteng pertahanan terakhir dari pihak kudeta di markas besar Angkatan Bersenjata dan di pangkalan udara Akincilar, yang terletak 20 kilometer dari Ankara, berhasil diambil alih kembali dan kehidupan segera kembali normal.

Indikasi pertama bahwa sesuatu sedang terjadi di malam 15 Juli sekitar jam 10 malam adalah saat media mulai melaporkan penutupan jembatan oleh para tentara dan tank di 2 jembatan yang menghubungkan Asia dengan Eropa. Wilayah udara Turki dideklarasikan ditutup dan pesawat militer mengudara. Seperti yang lainnya, saya pertama mengira Turki sedang mengalami pembajakan pesawat atau lainnya. Tapi segera laporan adanya gesekan di jembatan dan titik-titik strategis lain di Ankara dan Istanbul mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang berbeda. Semua menjadi semakin jelas saat PM Yildirim tampil di jaringan-jaringan televisi besar sekitar jam 11 malam. Ia menyebut ada sebuah percobaan kudeta oleh sebuah faksi didalam militer dalam upaya untuk mengambil-alih kekuasaan politik di Turki. Kemudian, presiden Recep Tayyip Erdogan menyebut di siaran TV bahwa organisasi terror Fetullah (FETO) dipimpin oleh ulama Fetullah Gulen yang berbasis di AS berada di balik percobaan kudeta, dan menghimbau rkayat untuk turun ke jalan untuk menyelamatkan demokrasi. Warga sipil merespon dengan berani dan keluar dan bergerak menuju area-area dimana gesekan terjadi, khususnya di Istanbul dan Ankara. Saat waktu berlalu, situasi yang lebih berbahaya terjadi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Turki menyaksikan parlemen dibom dengan F-16. Sebuah pesawat jet F-16 ditembak jatuh dengan sebuah helicopter Sikorsky Turki, dan para perwira pelaku kudeta dengan helicopter Black Hawk mencari suaka di Yunani.

Kepala staf Jendral (Panglima Militer Turki) Jenderal Hulusi Akar diinformasikan tentang upaya kudeta ini sekitar jam 5 sore tapi menolak meninggalkan markasnya. Akar dan deputi kepala staf jendral Yasar Guler disandera dan kemudian diculik oleh pengkudeta, yang mengurung mereka di pangkalan udara Akincilar di dekat Ankara. Serupa, KaStaf Angkatan Darat jendral Salih Zeki Colak, komandan Gendarmerie Jendral Galip Mendi, KaStaf Angkatan Udara Abidin Unal dan Komandan KaStaf Angkatan Laut Bulent Bostanoglu ditahan oleh pengkudeta. Sebuah deklarasi kudeta di situs internet resmi di Komando Tinggi sekitar jam 3 pagi dan sebuah communiqué disiarkan oleh stasiun TV Negara TRT mengumumkan bahwa militer telah mengambil alih kekuasaan Negara dibawah rantai komandonya. Akhirnya, kudeta berhasil digagalkan, pertempuran jalanan mereda dan sekelompok kecil tentara ditangkap oleh polisi. Hidup mulai kembali normal sekitar siang tanggal 16 Juli.

Meskipun jawaban akhir dari pertanyaan penting ini akan diketahui pasca investigasi hukum dilakukan, saya percaya bahwa klik dibelakang kudeta ini terdiri dari para perwira yang berafiliasi dengan FETO (gerakan Gulen) dan sekelompok perwira yang ingin menyelamatkan karir militer dan kepentingan pribadi mereka dan beberapa yang benar-benar berdedikasi terhadap nilai-nilai sekuler dan yang menentang Erdogan. Apakah Gulen berada dibelakangnya akan diungkap seiring waktu, tapi tanpa diragukan lagi dialah sumber inspirasinya. Ada tuduhan serius bahwa letnan jendral Metin Iyidil, kepala Komando Latihan dan Doktrin Angkatan Darat di Ankara, dan  Kolonel Muharrem Kose, mantan Konsultan Hukum dari KaStaf yang dibebastugaskan pada Mei 2016 dengan tuduhan keanggotaan FETO, memainkan peran kunci dalam pemberontakan ini.

Jendral berpangkat tertinggi dari pelaku kudeta yang akhirnya ditahan pasca kudeta gagal, yang tidak dibeking oleh Akar dan komandan Angkatan lainnya, adalah Jendral Akin Ozturk, yang hingga tahun lalu merupakan komandan Angkatan Udara, Jendral Adem Huduti, Komandan dari second Army yang bertanggungjawab memerangi terror di tenggara; dan Letnan Jendral Erdal Ozturk, komandan korps Third Army di Istanbul. Sebagai tambahan, Jendral bintang empat lainnya, komandan dari Third Army, juga ikut ditahan. Sekitar sepertiga dari 220 brigadir Jenderal didalam tubuh Angkatan Bersenjata Turki dan sekitar 10 mayor Jendral ditahan. Jumlah ini mengindikasikan bahwa meskipun mereka tidak mendapat dukungan dari Kepala Staf Angkatan Bersenjata dan komandan inti lainnya, pengkudeta memiliki dukungan yang signifikan di ranking brigadier dan kolonel. Sejumlah besar mayor dan letnan kolonel juga ditahan.

Diantara lingkaran kudeta ini, para personel Angkatan Udara yang merupakan 8% dari TSK (TNI-nya Turki, Turk Savunma Kulahli) dan Unit Gendarmerie (petugas keamanan publik dengan kewenangan di luar yurisdiksi kepolisian) yang menyusun sekitar 15% dari TSK memainkan peran yang penting. Yang hilang dari kekuatan kudeta adalah partisipasi yang cukup dari kekuatan Angkatan Darat, yang merupakan 65% kekuatan militer Turki.

Menurut beberapa laporan, jika kudeta berhasil, Ozturk, mantan komandan Angkatan Udara yang sekarang tidak mengemban sebuah tugas, akan ditunjuk sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata.

Mengapa percobaan kudeta ini gagal?

Perkembangan berikut dimalam 15 Juli menyebabkan percobaan kudeta menjadi gagal:

• Nasib kudeta ditentukan oleh Jendral Umit Dundar, komandan dari First Army di Istanbul yang menelepon Erdogan, yang sedang berlibur di resort Mediterania Marmaris, untuk memberi penjelasan padanya tentang situasinya; ia membujuk Erdogan untuk datang ke Istanbul dimana keamanan akan dijamin -alih-alih mencoba mencapai Ankara. Berkat peringatan awal ini, Erdogan dengan cepat meninggalkan Marmaris. Kekuatan kudeta menyerbu hotelnya satu jam setelah ia pergi. Keberangkatan Erdogan dengan cepat menuju Istanbul merupakan salah satu elemen penting terganggunya rencana kudeta.

• Dundar tampil tenang dan informative selama konferensi pers yang disiarkan langsung di TV, saat ia mendeklarasikan kudeta tersebut tidak sah. Ia menyebut percobaan tersebut berada diluar rantai komando militer (TSK) dan pimpinan komando (Panglima Militer Jenderal Hulusi Akar) sedang disandera oleh pengkudeta.

• Erdogan mengambil resiko dengan melakukan penerbangan sekitar satu jam lamanya dari Marmaris menuju Istanbul, yang merupakan lokasi yang relative aman baginya mempertimbangkan pelayanannya sebagai walikota Istanbul dari 1994-1998 dan tindakan dari Third Army untuk menekan pemberontakan disana.

• Sebagian besar prajurit (yang digerakan pihak kudeta) merupakan anggota wajib militer (Wamil) yang diberitahu bahwa mereka dikirim ke jalanan “karena sebuah latihan atau sebuah aktivitas menumpas terror.” Unit-unit kecil di jalan yang terdiri dari para prajurit muda ini dan dipimpin oleh para komandan junior terkejut dan kebingungan saat dikonfrontasi dengan perlawanan dari polisi dan massa dari warga yang marah. Mereka dengan cepat kehilangan kendali.

• Pemberitaan menolak kudeta di saluran-saluran TV mainstream memberikan pemerintah sebuah keuntungan psikologis.

• Usaha dari warga Negara dan polisi berhasil membujuk dan menanggulangi para prajurit di berbagai titik penting – jembatan-jembatan di Bosporus, bandara Ataturk di Istanbul, Alun-Alun Kizilay di Ankara serta kompleks kepresidenan- untuk mengakhiri operasi yang mereka lakukan. Peliputan penentangan yang berani dari rakyat dan polisi oleh stasiun-stasiun TV memperkuat usaha pemerintah menggagalkan kudeta.

• Partai-partai oposisi menolak untuk mendukung percobaan kudeta

• Komando Angkatan Darat, yang membawa sebagian besar beban TSK, kurang mendukung kudeta.

Apa lagi yang mungkin menyebabkan kegagalan percobaan kudeta?

Para pengkudeta tidak memiliki rantai komando yang baik dan tidak bisa mengkoordinasikan aksi mereka; mereka tidak memiliki sebuah pusat operasi. Junta yang terlihat focus pada Ankara dan Istanbul tak bisa mengeksploitasi elemen kejutan yang berhasil mereka raih antara jam 10 malam hingga tengah malam, yang memberikan kesan percobaan kudeta ini adalah usaha kamikaze yang direncanakan dengan tergesa-gesa.

Kenapa Kudeta Dilakuakn Sekarang?

Penjatuhan tuntutan 14 Juli terhadap para Gulenist didalam TSK, sebagai bagian dari kasus spionase Izmir, memfasilitasi percobaan kudeta.

Menurut sumber terpercaya yang berbicara pada Al-Monitor dalam kondisi anonim, jika tidak ada percobaan kudeta pada 15 Juli akan ada penahanan massal pada 16-17 Juli, disebabkan oleh kasus spionase. Sumber-sumber ini mengklaim bahwa sang jaksa dari kasus spionase di Izmir telah mendapatkan persetujuan Erdogan untuk memerintahkan penahanan massal sebelum mendekatnya pertemuan Dewan Agung Militer pada 1-4 Agustus, yang akan memutuskan ronde berikutnya dari berbagai promosi dan penunjukkan didalam tubuh TSK. Para pengkudeta menyadari rencana ini dan meluncurkan percobaan mereka yang tidak cermat dan tidak terkoordinasi secara terburu-buru. Dengan kata lain, percobaan kudeta yang sudah direncanakan untuk tanggal yang akan datang (a future date) dimajukan/dipercepat.

Bagaimana bila kudeta ini sukses?

Andai ini sukses, TSK (TNI Turki) akan terbelah. Penembakan jatuh terhadap sebuah helicopter Sikorsky oleh sebuah jet F-16 yang mendukung pemerintah adalah sinyalnya. Lebih lanjut, kekuatan kudeta tidak memiliki pilihan lain selain membuka tembakan untuk menekan warga sipil yang ada di jalanan untuk merespons seruan pemerintah. Jika kudeta ini sukses, Turki akan memasuki sebuah perang sipil berdarah.

Ketidakpastian politik yang tak terhindarkan dan kekacauan yang akan mengikuti kesuksesan sebuah kudeta akan memiliki efek gempa bumi bagi perjuangan Turki melawan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan ISIS, dan mengenai hubungan luar negerinya secara umum.

Mengapa Badan Intelijen Nasional dan Pimpinan Militer tak mengetahui mengenai junta?

Keberadaan struktur Gulenist didalam TSK telah diketahui sejak lama, termasuk identitas anggota-anggota kuncinya. Sementara pemerintah mungkin berencana untuk meluncurkan sebuah pembersihan besar-besaran terhadap Gulenist didalam TSK selama pertemuan Dewan Agung Militer Agustus mendatang, telah memberikan rasa nyaman bagi para komandan dan pemerintah. Ankara (pemerintah pusat) jelas tidak percaya bahwa sebuah junta kudeta akan melakukan kegilaan semacam ini. Level komando tidak menduga pemberontakan yang tersebar luas dan tidak terkoordinasi semacam ini yang termasuk sebagian besar komandan brigade tempur.

Apa Selanjutnya?

Apakah demokrasi atau Erdogan yang jadi pemenang pada 15 Juli ? Kita akan mengetahuinya saat langkah-langkah yang direncanakan akan diambil oleh Erdogan terungkap.

Arah pertempuran terhadap PKK mungkin berubah. Satu-satunya pertanyaan kunci yang ditanyakan oleh akun-akun sosial media pro-Kurdi dimalam 15 Juli adalah apakah situasinya akan mempengaruhi pemimpin mereka yang dipenjara, Abdullah Ocalan.

Akhirnya kita harus memperhatikan trauma fenomenal. Yang dirasakan oleh TSK sekarang. Secara tradisional, TSK (militer Turki) merupakan sebuah institusi yang mengambil modernisasi barat dengan sebuah pandangan yang pro-Barat dan sekuler. Bisakah situasi sekarang menyebabkan krisis identitas didalam TSK? Bisakah karakteristik sekuler TSK dikurangi dan membuat militer Turki lebih sensitive terhadap agama? Aan apakah pembersihan yang diharapkan pasca percobaan kudeta mengubah TSK menjadi lebih kearah Eurasia dan mendorongnya terhadap orientasi yang lebih tak berpihak dan anti-Barat?

___
*Metin Gurcan adalah seorang kolumnis Turkey Pulse Al-Monitor. Ia bertugas di Afghanistan, Kazakhstan, Kyrgystan dan Iraq sebagai seorang penasihat militer Turki antara 2002-2008. Mundur dari militer, dia sekarang merupakan seorang analis keamanan independen yang berbasis di Istanbul. Gurcan mendapatkan PhD-nya pada Mei 2016, dengan sebuah disertasi mengenai berbagai perubahan pada militer Turki selama dekade terakhir. Ia telah mengeluarkan publikasi secara ekstensif di jurnal-jurnal akademis Turki dan asing dan menulis buku yang akan dirilis pada Agustus 2016 berjudul “What Went Wrong in Afghanistan: Understanding Counterinsurgency in Tribalized, Rural, Muslim Environments.”

sumber:  http://www.al-monitor.com/pulse/originals/2016/07/turkey-kamikaze-coup-attempt-fails.html#ixzz4Ew5Iaur1



Read More »

Dokumen Rahasia Ungkap Alasan Kudeta Turki Dimajukan 6 Jam dari Jadwal yang Direncanakan


[beritanews33.blogspot.com] ANKARA - Dokumen rahasia sebut alasan kudeta Turki dimajukan 6 jam dari waktu semestinya.

Media-media Turki menurunkan berita yang mereka sebut 'dokumen rahasia'. Dokumen tersebut mengungkap sebab dimajukannya kudeta Turki 6 jam dari jadwal seharusnya.

Kudeta yang berhasil digagalkan oleh rakyat Turki tersebut seharusnya dilakukan Sabtu pukul 03.00 subuh waktu setempat, diharapkan ketika rakyat dan kader AKP sedang tidur.

Namun rencana tersebut tercium oleh panglima militer Turky, Jenderal Halussi Akar, yang kemudian membuat kelompok kudeta memajukan jadwal kudeta menjadi pukul 21.00 (Jumat malam) atau 6 jam sebelum jadwal seharusnya.

Jenderal Akar mencium adanya kudeta yang akan terjadi terhadap Erdogan, Akar langsung menghubungi komandan First Army Jenderal Omut Dundar di Istanbul dan setelah itu Dundar memberitahu Erdogan yang ketika itu sedang berlibur di Marmaris.

Jenderal Omut menelpon Erdogan dan mengatakan: "Presiden Erdogan, anda adalah presiden sah kami, dan saya akan tetap setia kepada anda, karena kami telah mencium adanya kudeta sebaiknya anda meninggalkan Marmaris dan segera menuju Istanbul, jangan ke Ankara terlebih dahulu, dan saya menjamin keselamatan anda setiba nanti di Istanbul."

Benar saja, 44 menit setelah Erdogan meninggalkan hotel Marmaris, tiga heli kelompok kudeta datang menyerang hotel, sempat terjadi tembak menembak dengan pengawal Erdogan, dan dalam kejadian tersebut seorang polisi penjaga hotel yang ditempati Erdogan meninggal.

Dari sumber dokumen rahasia disebutkan bahwa Tim Serbu yang diturunkan pelaku kudeta ke hotel di Marmaris membawa tugas resmi untuk menangkap atau membunuh Erdogan.

Dokumen rahasia juga menyebutkan, jika kudeta berhasil maka akan diberlakukan status darurat di Turki mulai dari jam 6 pagi harinya untuk menguasai semua objek vital negara dan mendapat dukungan dari rakyat Turki dengan melakukan propaganda media. Kemudian diikuti dengan pemecatan semua loyalis Erdogan dan menyeret mereka ke Pengadilan Militer.

Kelompok kudeta juga sudah menentukan 18 hakim yang akan memimpin sidang untuk menyeret semua loyalis Erdogan di provinsi-provinsi besar di Turki.

Namun semua rencana tersebut sia-sia karena kudeta berhasil digagalkan.

ALLAHU KABAR!!!

Sumber: Turkpress

Read More »

Digertak AS dan Uni Eropa, Balasan Erdogan Bikin AS-Uni Eropa Mati Gaya


[beritanews33.blogspot.com] Pasca kegagalan upaya kudeta militer Turki mendongkel kepemimpinan Erdogan, rupanya AS dan Uni Eropa masih memendam kecewa. Kini mereka menggertak Erdogan yang sedang membersihkan Turki dari unsur-unsur pembuat makar kudeta.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry hari Senin (18/7) memperingatkan pemerintah Turki agar jangan keterlaluan dalam memulihkan ketertiban pasca kudeta yang gagal dan mengancam Turki bisa didepak dari keanggotaan NATO.

John Kerry mengatakan ia mendukung usaha menyeret pelaku kudeta di Turki ke pengadilan, tetapi juga memperingatkan pemerintah Erdogan agar jangan bertindak “terlalu jauh” dalam memulihkan ketertiban di negara itu.

“Kami mendukung pemerintahan yang terpilih di Turki,” katanya dalam konferensi pers setelah bertemu dengan rekan-rekannya dari Uni Eropa di Brussels. “Tapi kami juga tegas mendesak pemerintah Turki untuk menjaga ketenangan dan stabilitas di seluruh negeri,” tambahnya.

Kerry selanjutnya mengatakan, “Kami juga mendesak pemerintah Turki untuk mempertahankan standar tertinggi dalam menghormati lembaga-lembaga demokratis bangsa dan peraturan hukum.”

Hal senada disampaikan Federica Mogherini, politisi Italia sekaligus Kepala Diplomasi Luar Negeri Uni Eropa ini mengatakan: "Hukuman mati bertentangan dengan keanggotaan Turki di Uni Eropa".

Gertakan sambal AS dan wanita Italia ini disahut tegas oleh Presiden Erdogan bak halilintar yang memekakkan gendang telinga mereka: "AKU SIAP MUNDUR DARI ANEKA KESEPAKATAN YANG TELAH DIPUTUSKAN OLEH UNI EROPA TATKALA PARLEMEN TURKI MEMUTUSKAN SESUATU PERKARA YANG BERTENTANGAN DENGAN KEPUTUSAN UNI EROPA".

Dunia Barat (AS-Uni Eropa) dibuat mati gaya oleh Erdogan. Semua gertakan mereka tak berharga.

Dunia Barat hanya seonggokan manusia yang tidak punya saraf malu (bukan sudah putus, tapi memang tidak punya saraf malu). Mereka bak cacing kepanasan saat mendengar statemen-statemen Erdogan.

Kantor Berita Turki Anadolu Agency, Selasa (19/7), melaporkan lebih dari 6.000 tentara Turki, 1.481 anggota peradilan dan 210 petugas polisi di tahanan karena diduga terkait dengan upaya kudeta yang mematikan pada Jumat lalu dimana 240 orang penentang kudeta telah syahid, termasuk 62 polisi, lima tentara dan 173 warga sipil. Sekitar 1.500 orang terluka.

Pejabat mengatakan pada Anadolu Agency setidaknya 990 tersangka yang ditahan telah didakwa, termasuk 82 perwira tinggi dan 273 anggota peradilan.

Mereka kini diseret ke pengadilan atas pengkhianatan terhadap negara dengan melakukan kudeta terhadap pemerintah yang sah. Jika parlemen Turki menyetujui pemberlakukan hukuman mati, maka diantara mereka terutama gembong kudeta akan dihukum mati.

Dan para pemimpin hipokrit Barat kelojotan mendengar Turki akan menerapkan hukuman mati bagi para pengkhianat negara (kudeta).

Kalian ingin mengatakan Hukum Mati di Turki bertentangan dengan HAM?

Tapi kenapa diam dengan hukuman mati yang sudah dipraktekkan di Mesir oleh rezim As-Sisi?! Lihat keputusan hukuman mati Presiden Mursi dan ratusan aktivis penentang kudeta di Mesir!

Lihat juga pelanggaran HAM yang saban hari lalu lalang di kelopak mata kalian! Lihatlah Somalia, Rohingya, Uighur! Lihatlah Palestina, sampai saat ini negara ini belum merdeka! Dimana HAM?? (Abu Hudzaifah)

Sumber: Anadolu Agency, Alwatan, Washington Post


Read More »

[Rekaman VIDEO] Pertempuran Heroik Tentara Pembela Erdogan Melawan Heli Tempur Kudeta


[beritanews33.blogspot.com] Mirip film action aksi heroik anggota MIT (Dinas Intelejen Turki-yang dipimpin Hakan Fidan) tembak menembak membalas serangan sebuah helikopter kudeta - gambar diperoleh dari CCTV (tanpa suara).

Pada Jumat (15/7) malam saat upaya kudeta militer dilakukan, gedung dinas intelijen Turki MIT (Milli İstihbarat Teşkilatı) diserbu dan ditembaki helikopter tempur pihak kudeta.

"Terjadi kudeta, tuan Presiden! Kami akan bertempur dengan mereka hingga mati! Anda bergabunglah bersama rakyat, nyatakan keadaan darurat sekarang juga!” itulah bunyi pesan yang disampaikan oleh kepala intelijen Turki Hakan Fidan kepada Presiden Erdogan malam terjadinya kudeta, seperti dikutip Turkinesia.

Hakan Fidan merupakan Kepala intelijen Turki, MIT. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat loyal kepada Presiden Erdogan. Diangkat menjadi kepala MIT sejak tahun 2010 dan Kecerdasan kontra intelijennya dianggap paling top di Timur Tengah.

Pendiam seribu tanda tanya, Hakan Fidan adalah sosok kuat yang menyokong pemerintahan Erdogan serta melumpuhkan musuh dari luar dan dalam.

Fidan juga adalah otak dibalik gagalnya rencana kudeta berdarah jenderal Ilker Basbug terhadap Erdogan beberapa tahun lalu. “As-Sisi Turki” itu sekarang mendekam seumur hidup dalam bui.

Kepala intelijen Mesir Muhamed Refaat mengakui Fidan adalah intel terbaik dunia Islam saat ini. Mengalahkan intel Zionis dan Amerika.


Lagi-lagi kali ini Hakan Fidan membuktikan talenta intelijennya. Pesan heroiknya dan pertempuran hebat pasukannya sekali lagi telah menggagalkan usaha kudeta yang sebenarnya sudah sangat terencana dengan matang oleh pihak musuh.

Video pertempuran sengit ini diunggah oleh Kantor Berita Turki Anadolu Ajansi (berbahasa Turki) pada 18 Juli 2016 di saluran Youtube.

Lihat pertempuran hebat ini. Kalau masih mengatakan kudeta ini abal-abal hanya rekaan Erdogan, Anda perlu ke Rumah Sakit Jiwa. Kalau gak, ke Sumber Waras aja.

[Video - tanpa suara] Pertempuran sengit anggota MIT dengan Helikopter Kudeta:

Read More »
 
Wkyes